
" SURAU SULUK NURUL MA'ARIF "
Surau Nurul Maarif Adalah suatu Lembaga/Rumah/Bengkel Rohani yg menjelaskan hubungan kedekatan hamba dg Allah dg sedekat sedekatnya dg memakai jalan yg disebut dgThariqat yg mana dg bertariqah sihamba akan sampai kepada tuhannya sesuai hadits dari Rasulullah SAW) bahwa : "Man 'Arofa Nafsahu faqod 'Arofa Rabbahu". "Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya".firman Allah yg berbunyi يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al Maa-idah 35)
Surau Nurul Maarif Menggabungkan dua unsur Tariqat yaitu Tariqat Samaniyah dan Naqsyabandiyah Khalidiyah yg bermuara kepada ulama yg Masyur dan mursyd yg mukamil yaitu Beliau Almukaram maulana Syech Mudo abdul qadim belubus Payakumbuh yg sering disebut dg beliau Balubuih. Surau Nurul Maarif merupakan Rumah/Bengkel rohani yang mengajarkan ilmu dzikir hati kepada masyarakat luas yang mau dan mampu di mana ilmu dzikir dimaksud diajarkan secara turun temurun sebagai warisan agung dari Baginda Nabi SAW agar ummatnya selalu terjaga dan terpelihara untuk terhubung kepada Dzat Allah ‘Azza Wa Jalla sampai hari akhir. Sebagaimana hadits yang menyebutkan bahwa tidak akan datang waktu kiamat jika masih ada di bumi (dunia) ini yang menyebut Allah, Allah, Allah (Berdzikir).Atas izin Yang Maha Kuasa, sampai hari ini masih ada para Ulama pewaris Nabi yang masih mengajarkan tata cara dzikir sebagaimana dzikir yang dilakukan dan diajarkan oleh Baginda Nabi SAW kepada para sahabatnya yang terpilih kemudian tabi’in, lalu tabi’it tabi’in hingga sampai kepada ummat di zaman ini. Dzikir ini sesungguhnya yang membersihkan hati sehingga seseorang dapat terhubung kepada Dzat Tuhannya serta menjadi inti dan pondasinya ibadah. Dzikir inilah yang diperintahkan Allah SWT dalam firmanNya :وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَArtinya: Dan sebutlah (Nama) Allah dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dengan suara yang tersembunyi (tidak mengeraskan suara), di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS: Al A’raaf 205).Ilmu Dzikir ini pada dasarnya diberikan kepada siapa pun yang mau dan mampu, dan orang yang mau mempelajarinya harus berguru kepada seorang yang memang ahli dalam dzikir ini sesuai perintah Allah SWT pada surat An Nahl 43 :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَArtinya : Bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui (QS An Nahl : 43)Hadits Nabi : “Adakanlah (jadikanlah) dirimu (rohanimu) beserta Allah, jika Engkau belum bisa menjadikan dirimu (Rohanimu) beserta Allah, maka adakanlah (jadikanlah dirimu (rohanimu) beserta dengan orang yang beserta Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau kepada Allah (yaitu rohaninya). Di dalam Surat Al Kahfi (18) ayat yang ke-110 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang mengharapnkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia mengerjakan amal sholih dan janganlah menyekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Rabb-nya."(HR Abu Daud).Berfirman Allah Swt. Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan aku besertanya dimana ia mengingat akan Aku (HR Bukhari-Muslim)Ahli dzikir yang dimaksud pada ayat di atas adalah seorang Guru Mursyid yang mampu membimbing dan mengarahkan muridnya untuk sampai kepada Dzat Allah SWT. Sesuai namanya yaitu Mursyid yang memiliki asal kata Irsyad (yang memberi petunjuk / bimbingan), Guru Mursyid akan membimbing muridnya untuk selalu dekat kepada Dzat Allah SWT hingga sampai kepada DzatNya.Surau Nurul Maarif Tempat Berkhalawat atau Persulukan Thariqat Samaniyah Wan Naqsyabandiyah Khalidiyah merupakan wadah pembinaan Guru Mursyid kepada murid-murid yang mau belajar dzikir hati khusus untuk mendekatkan diri kepada Dzat Allah SWT, dzikir yang menjadi pondasi ‘amal shaleh dengan keikhlasan yang timbul dari pencucian hati oleh dzikir ini tidak dapat dipelajari sendiri tanpa bimbingan seorang Guru Mursyid. Adalah suatu keniscayaan bahwa untuk memperoleh ilmu dzikir ini, haruslah lewat seorang Guru Mursyid sebagaimana para sahabat diajari langsung oleh Nabi SAW sebagai Guru Mursyid mereka saat itu.Saat ini, sudah banyak surau surau kami Membuka Persulukan Dinusantara dan bahkan sampai kemanca negara, yg bersanad sampai kepada Almukaram maulana Syech Mudo Abdul Qadim Belubus Dan bersambung sampai kepada Rasulullah saw, yg diakui kemursydannya dan dapat dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat.khusus dikota Padang sudah berdiri Lima surau, Diantaranya empat yg aktif Dalam mengajarkan dan mengamalkan ajaran Tariqah Syech Mudo Beliau Belubus.Yang mana Disurau Nurul Maarif ini tongkat Kemursydan Dipegang oleh guru kami yaitu, Maulana Almukaram Buya Syafrizal Yg memperoleh Ijazah Irsyad Untuk menjadi Mursyd untuk mengajarkan dan membuka persulukan Dari Almukaram Syech buya Annas bin Syech Malik bin Syech Mudo Abdul Qadim. Dengan tujuan itulah kami mendirikan Surau suluk Nurul Maarif sekaligus mengajarkan dan mengamalkan Amalan Dzikir yang istimewa. Dzikir amatlah penting untuk menjadi landasan seorang muslim menuju kekaa-ffahan dalam keislamannya sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al Quran, sehingga ALLAH sendiri menjaga amalan dzikir ini dengan di jagaNya para mursyid tetap berada di antara umat.Akhirnya dengarlah Tuhanmu yang memanggil dalam Qur-an Surat An Nisaa’ (103) Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguh-nya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS 4:103).Barang siapa tiada banyak menyebut Allah, maka sesungguhnya terlepas dia dari imannya ( HR. At Tabrany dalam Al Ausath ).Al Munaafiquun (9) Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi (QS 63:9).Al Fajr 27 – 30 :يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ(Wahai jiwa-jiwa yang tenang) (Q: AL Fajr 27)ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً(kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan di ridhai) (Q: AI Fajr 28)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي(Masuklah dalam golongan para Hamba-Ku) (Q: Al Fajr 29)وَادْخُلِي جَنَّتِي(dan masuklah ke dalam Syurga-Ku) (Q: Al Fajr 30)Begitu banyak Dalil dalil yg mewajibkan kita untuk ingat kepada Allah disetiap detik, berikut ajaran Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim belubus 'Kaji kabarpulang', Buruang tabang sangkak tingga, manolah Hiduik nan kadipakai, mati nan kaditompang.Dicari pangana dalam bardzikir, dipakai dalam sumbayang,disudahi katiko nyawa kabarpulang.Siriah pulang katampuak,pinang pulang kagagangnyo, urang punyo datang manjapuik.Wassalam.....

FOTO:
Buya Syafrizal Mursyd Thariqah Samaniyah wan Naqsabandiyah Al khalidiyah
MEET OUR TEAM

BELIAU BELUBUS
Syekh Muda Abdul Qadim Belubus (1878-1957): Ulama besar Tarekat Naqsyabandiyah dan Samaniyah di Sumatera Tengah
Syekh Muda Abdul Qadim atau yang lebih dikenal dengan “Baliau Belubus” adalah seorang ulama terkemuka pemangku Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Samaniyah. Meski nama beliau tidak begitu banyak disebut oleh para peneliti ulama, namun beliau mempunyai pengaruh besar yang tak terbantahkan dikalangan ahli-ahli tarekat Sufiyah di Sumatera Tengah, Minangkabau Umumnya. Bahkan dikabarkan bahwa khalifah-khalifah beliau, salah satunya Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, telah pula mengembangkan sayap ilmu tarekat dari silsilah Syekh Mudo menyeberang lautan, sampai Malaysia dan Thailand. Ketika diadakan kongres tarekat Naqsyabandiyah di Bukittinggi pada tahun 1954 yang dipayungi oleh Perti, maka beliau Syekh Mudo adalah salah persertanya, di samping 280 ulama-ulama besar lainnya di Sumatera Tengah.
Foto: Syekh H. Abdul Malik, anak Syekh Mudo yang melanjutkan surau Belubus di samping kemenakan Syekh Mudo, yaitu Syekh H.Mukhtar Angku Tanjuang
Belubus, sebuah nagari yang terletak di ketinggian, tak jauh dari kota Payakumbuh. Di daerah ini Syekh Muda Abdul Qadim lahir pada tahun 1878. Tempat mula beliau menuntut ilmu ialah Batu Tanyuah. Di sini beliau mengaji kitab cara lama kepada salah seorang alim yang tidak begitu dikenal namanya. Setelah dari Batu Tanyuah, beliau kemudian belajar mendalami Syari’at dan Tharikat, paling tidak ada 6 daerah terkemuka dalam tarekat Sufiyah di Minangkabau yang dikhitmatinya. Tempat-tempat itu ialah, pertama, Batu Hampar (Payakumbuh) tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah Batu Hampari an-Naqsyabandiyah (w. 1899). Di sini beliau mula mengaji tarekat Naqsyabandiyah sampai memperoleh Natijah, hingga Syekh Abdurrahman menggelari beliau dengan “Syekh Mudo”. Kedua Padang Kandih, yaitu kehadapan Tuan Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (w. 1912). Ketiga Kumpulan, tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati “Angguik Balinduang” Kumpulan (w. 1915). Keempat di Padang Bubus Bonjol, tempat beliau berkhitmat atas jalan Tarekat Naqsyabandiyah di Makam Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus (Abad XIX). Kelima di Simabur, kepada salah seorang ulama masyhur dalam ilmu Hakikat, namun nama beliau ini tidak dikenal lagi. Keenam di Kumango, Batusangkar, kepada Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi “Beliau Kumango”. Begitulah pengembaraan keilmuan beliau, terutama dalam bidang ilmu hakikat dan tarekat, hingga beliau beroleh nama besar selaku ulama terkemuka dalam tarekat Ahli Sufi, Naqsyabandiyah dan Samaniyah.
Syekh Mudo setelah itu mulai mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya di kampung halaman beliau, Belubus. Di sini beliau mendirikan surau, pusat khalwat Naqsyabandi, yang dibarengi dengan pengajaran tarekat Samaniyah dan Silat Kumango. Surau Belubus kemudian menjadi terkemuka, banyak orang-orang siak dari seantero Minangkabau yang melanjutkan kaji-nya, terutama dalam Tarekat kepada Syekh Mudo Abdul Qadim. Diantara murid-murid beliau tersebut, banyak pula yang kemudian terkemuka pula selaku ulama, diantaranya ialah Syekh Beringin di Tebing Tinggi Medan, Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah Batu Tanyuah dan Buya H. Muhammad Dalil Dt. Manijun di Jaho.
Foto: Makam Syekh Mudo Abdul Qadim, bersama Syekh Mukhtar Angku Tanjuang (Foto: Apria Putra, 2007)
Syekh Mudo wafat pada tahun 1957 dan dimakamkan di depan Mihrab Surau Belubus. Selain meninggalkan ilmu Tarikat yang berurat berakar, terutama di kawasan Luak Limopuluah, beliau juga meninggalkan beberapa karangan yang diperuntukkan bagi kalangan ahli tarekat. Beberapa buah karangan itu dapat diakses, sebagian lainnya masih tersimpan dan dirahasiakan oleh pewaris Surau Belubus. Diantara karangan Syekh Mudo tersebut ialah:
1. As-Sa’adatul Abdiyah fima Ja’a bihin Naqsyabandiyah (menyatakan wirid-wirid amalan Tharikat Naqsyabandiyah).
Risalah ini selesai ditulis pada tahun 1936. Pada sampul karya ini tercetak jelas: “Tidak dijual dan tidak dipakai bagi orang yang belum mengamalkan wirid tersebut”. Sebuah peringatan yang umum dikalangan ahli tarekat, sebab ada kekhawatiran bila kaji tarekat diumbar-umbar maka akan jatuh harganya sebagai ilmu yang istimewa. Ada pula karena kaji tarekat diperkatakan di pasaran, ada orang-orang yang belum sampai akal dan ilmunya yang membatalkan kaji tersebut, sebab membatalkannya merupakan suatu kecelaan yang nyata.
Secara umum Risalah ini berisi tentang kaifiyah mengambil tarekat Naqsyabandiyah. Mulai dari Bai’at, penjelasan zikir-zikir Naqsyabandiyah, Rabithah dan lainnya. Risalah ini telah dicetak beberapa kali oleh berbagai percetakan. Terakhir dicetak pada Percetakan Sa’adiyah Bukittinggi.
Baca Juga: Surau Belubus Pusek Jalo Pumpunan Ikan
2) As-Sa’adatul Abdiyah fima Ja’a bihin Naqsyabandiyah Bagian Natijah
Sebuah kitab Naqsyabandiyah yang dipergunakan khusus bagi guru-guru mursyid yang telah mencapai khalifah, sebab di dalamnya banyak dibicarakan mengenai rahasia-rahasia tarekat Naqsyabandiyah yang dilarang dikemukakan kepada khalayak umum. Cetakan ke-2 risalah ini dicetak oleh Syarikah Tapanuli – Medan tahun 1950.
Foto: Sampul Kitab “as-Sa’adatul Abdiyah”, terbitan Medan, 1950
3) Risalah Tsabitul Qulub
Risalah ini merupakan literatur langka mengenai Tarikat Samaniyah di Minangkabau. Secara umum isinya berbicara tentang ilmu tasawuf dan tarekat, namun di dalamnya disinggung mengenai amalan Tarikat Samaniyah dengan cukup panjang. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid. Sampai saat ini baru diidentifikasi sebanyak 3 juzu’ karya ini. Deskripsi setiap jilid ialah sebagai berikut:
[Pertama] Tsabitul Qulub jilid I, Kitab ini berisi dalil-dalil yang tersirat untuk mempertahankan amal tarekat, serta memperkokoh hati murid, supaya tidak terpecah-pecah akibat paham yang begitu rupanya. Penulisan sumber rujukan dalam kitab ini cukup variatif, menunjukkan kealiman Syekh Muda yang masyhur itu. Diantar sumber-sumber kitab yang menjadi rujukannya ialah Tanwirul Qulub (sangat populer saat ini), Shahifatus Shafa (besar kemungkinan karangan Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubis), Manzhirul A’ma, Khazinatul Asrar, ar-Rahmatul Habithah, Hadist Arba’in, Sairus Salikin, al-Minhul Nisbah, Husnul Husain, al-Qusyairi, Lathifatul Asrar, Hidayatus Salikin, Aiqazhul Manam, Hidayatul Hidayah, Mawahib Sarmadiyah, al-Asymuni dan lain-lainnya. Selain menjadi penguat hati si murid, risalah ini juga memuat kaifiyah Tharikat Saman dan Tharikat Muhammad Yaman (pecahan Saman) beserta wirid-wirid dan zikir-zikirnya. Risalah ini kemudian ditutup dengan sebuah fasal yang cukup panjang berisi tentang “Pengajaran tatkala nyawa akan berpulang ke hadirat Allah”. (cetakan ke-6, pada percetakan as-Sa’adiyah Bukittinggi, t. th)
Foto: Sampul “Risalah Tsabitul Qulub”, Juzu’ pertama.
[Kedua] Tsabitul Qulub jilid II, Kajian dalam kitab ini tak kalah menariknya. Kitab ini baru dijumpai penulis dalam bentuk manuskrip, salinan tangan oleh Marnis Dt. Bangso Dirajo. Di antara isi kitab ini ialah:
Himpunan akidah lima puluh
Sebab zikir
la ilaha illallahu
tidak pakai
muhammadur rasulullah
Masalah Nur Muhammad dan Nur Allah
Kelebihan manusia dari pada segala alam
Masalah Najis dan hadas
Pembahasan
Muqarinah
Niat
Tentang
martabat Ahadiyah
,
wahdah
dan
wahidiyah
Menyatakan
syari’at
dan
thariqat
di dalam sembahyang
Rabithah
dalam sembahyang
Asal suluk 40 hari, dan lainnya banyak lagi
[Ketiga] Tsabitul Qulub jilid III, pada jilid ini termuat pengajaran tarekat yang cukup istimewa, yakni membicarakan perhubungan salat dengan tarekat. Di mana di dalamnya ada tertulis:
Maka dari itu nyatalah bagi kita bahwa ilmu Tharikat itu bersuanya di dalam sembahyang. Sepatutnya kita mahir ilmu tharikat itu dengan beberapa martabatnya.
………………
Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mempunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya. (Tsabitul Qulub jilid ke-III)
Kemudian kitab ini disambung dengan pembahasan mengenai “nafsu yang tujuh”, dijabarkan dengan kalimat jelas dan ringkas. Kemudian kitab ini disudahi dengan wirid-wirid dalam tarekat Saman. (Asal naskah kopiannya masih ada tersimpan di surau Belubus, yakni cetakan Islamiyah – Medan).
4) Al-Manak: Mempusakai dari Ayah, Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (disebut juga dengan kitab “Bintang Tujuh”)
Kitab ini berisi ilmu-ilmu yang Dipusakai dari Syekh Muda Abdul Qadim. Diantara isinya cara mencari awal-awal bulan Arab, mencari awal bulan Ramadhan, ilmu Bintang Tujuh (saat baik dan buruk), ilmu pertukangan rumah adat Alam Minangkabau, mencari waktu baik dan jahat, mencari barang hilang dan lainnya.

SURAU NURUL MAARIF
Almukaram Syech Abdul Malik anak dari Maulana Syech Mudo Abdul Qadim Beliau Belubus
Beliau Dimakamkan Dibelubus

SILSILAH MURSYD SURAU SULUK NURUL MAARIF
Almukaram Syech Buya Annas Malik, adalah Keturunan Langsung (Cucu) dari Syech Mudo Abdul Qadim. Beliau inilah yg mengizajahkan Langsung (Ijazah Irsyad) Kepada guru kami Buya Syafrizal untuk Membuka Persulukan sekaligus Sebagai Mursyd Thariqah Samaniyah wan Naqsabandiyah khalidiyah
OUR INVENTORY
Designed with You in Mind

SURAU SULUK NURUL MA'ARIF
Rantai Silsilah Mursyd surau suluk Almukaram Buya Syafrizal
Get in touch with us today to learn more about our selection of products.
GET IN TOUCH

